Ibu Bekerja, Ayo Peduli Kesehatan!

Dalam rangka menyambut Hari Ibu 22 Desember 2017 ini, Yayasan Jantung Indonesia menghimbau para ibu, terutama ibu bekerja, untuk menjalani gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit kardiovaskuler.

Perempuan dikenal dengan kemampuannya melakukan multitasking. Termasuk para ibu, terutama para ibu bekerja, yang secara bersamaan mengurus keluarga, menjadi manajer rumah tangga, dan menyelesaikan pekerjaan kantor. Begitu padatnya kegiatan sehari-hari sehingga para ibu bekerja ini sering mengabaikan kondisi kesehatan diri. Karena itu pada peringatan Hari Ibu kali ini, Yayasan Jantung Indonesia mengajak para ibu bekerja untuk menjaga kesehatannya dengan menjalani gaya hidup sehat agar terhindar dari berbagai penyakit yang mengintai, termasuk penyakit kardiovaskuler.

“Ibu adalah tiang keluarga, bahkan bisa dibilang bahwa ibu itu adalah tiang negara karena dari mereka lah bermula pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Dengan tugas yang mulia ini, ibu tidak boleh lalai untuk menjaga kesehatan diri,” ungkap Syahlina Zuhal, Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.

Saat ini, penyakit kardiovaskuler, termasuk di dalamnya adalah penyakit jantung koroner, menjadi salah satu penyakit paling mematikan bagi perempuan di dunia. Menurut data World Heart Federation, penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 1 dari 3 perempuan di dunia. Setiap tahunnya, 3,3 juta perempuan meninggal akibat penyakit kardiovaskuler. Di Australia, menurut hasil laporan ‘Cardiovascular Risk and Diseases in Australia Women’, penyakit jantung menjadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan di benua tersebut, mencapai angka lebih dari 31.000 kematian setiap tahunnya.

Menurut data World Heart Federation, penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 1 dari 3 perempuan di dunia. Setiap tahunnya, 3,3 juta perempuan meninggal akibat penyakit kardiovaskuler.

Ibu Bekerja dan Risiko Terkena Penyakit Jantung

Sebenarnya risiko perempuan untuk terkena serangan jantung koroner lebih rendah dibanding dengan laki-laki. Ini karena perempuan memiliki hormon estrogen yang dapat melindung dari penyakit jantung koroner dan stroke. Namun semakin usia bertambah, jumlah hormon ini dalam tubuh juga berkurang, terutama saat memasuki usia menopause.

“Sayangnya, karena rendahnya risiko terkena penyakit jantung koroner, perempuan cenderung mengabaikan kondisi kesehatannya. Apalagi jika ia adalah ibu bekerja yang waktunya banyak digunakan untuk mengurus keluarga dan pekerjaannya. Padahal saat umur sudah bertambah dan hormon berkurang jumlahnya, perempuan akan lebih rentan terkena penyakit berbahaya, salah satunya adalah penyakit jantung koroner,” jelas Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, SpJP dari Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskuler FKUI/RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

Menurut beberapa penelitian yang diadakan mengenai perempuan dan penyakit jantung, risiko perempuan untuk terkena penyakit semakin meningkat. Seperti penelitian yang diadakan oleh Women’s Health Study yang hasilnya menyebutkan bahwa adanya hubungan antara perempuan yang bekerja di tempat dengan tingkat stres tinggi dengan risiko penyakit jantung. Sementara menurut hasil penelitian dari Ohio State University, perempuan yang menjalani jam kerja lebih dari 40 jam seminggu semakin tinggi risikonya terkena penyakit jantung. Risiko semakin meningkat pada perempuan yang harus menyeimbangkan peran-perannya, misalnya sebagai ibu, istri, dan perempuan pekerja

Secara umum, risiko penyakit jantung yang terutama adalah merokok, kolesterol tinggi, hipertensi, kencing manis, riwayat keluarga, dan menopause. Untuk mengurangi risiko terkena penyakit jantung, dr. Amiliana memberikan beberapa saran bagi para ibu bekerja:

  1. Membina hubungan baik dengan anggota keluarga dan lingkungan di tempat bekerja. Kondisi yang baik di rumah dan di tempat kerja akan membantu mengurangi stres dari ibu bekerja.
  2. Memiliki me time. Ibu tetap harus memiliki waktu untuk diri sendiri melakukan relaksasi atau hobi.
  3. Menerapkan manajemen waktu yang baik. Perempuan sebagai sosok yang multitasking harus mengatur waktunya dengan baik dan disiplin dalam menjalaninya.
  4. Menjalani gaya hidup sehat. Termasuk di dalamnya adalah menghindari rokok baik secara aktif maupun pasif, hidup aktif dengan berolahraga 30 menit sehari lima kali dalam seminggu, pola makan dengan gizi seimbang, mengelola stres, dan memeriksa kesehatan secara rutin.
  5. Meningkatkan Kewaspadaan Perempuan tentang Penyakit Jantung

“Sebagai anggota dari World Heart Federation, Yayasan Jantung Indonesia ikut mengadakan program Go Red for Women yang tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan perempuan terhadap penyakit jantung. Hal ini sangat penting karena perempuan punya peranan penting bagi anak-anaknya, suami, dan juga rekan-rekan di tempat ia bekerja,” jelas Syahlina Zuhal.

Menurut data dari World Heart Federation, 80% kasus penyakit kardiovaskuler dapat dicegah dengan edukasi yang tepat dan perubahan gaya hidup. Karena itu, Yayasan Jantung Indonesia mengajak perempuan Indonesia, termasuk para ibu bekerja, untuk menerapkan Panca Usaha Jantung Sehat untuk mencegah penyakit kardiovaskuler, yaitu:  seimbangkan gizi dengan pola makan yang sehat, enyahkan rokok,  hadapi dan atasi stress, awasi tekanan darah, dan teratur berolahraga.

Panca Usaha Jantung Sehat untuk mencegah penyakit kardiovaskuler, yaitu:  seimbangkan gizi dengan pola makan yang sehat, enyahkan rokok,  hadapi dan atasi stress, awasi tekanan darah, dan teratur berolahraga.

Tak hanya menjalani gaya hidup sehat, perempuan juga harus paham tanda-tanda terkena serangan jantung agar bisa segera tertangani dengan tepat. Gejala-gejala serangan jantung pada umumnya adalah sakit dada seperti tertekan, bisa menjalar ke bahu kiri, rahang, maupun punggung.

“Namun pada perempuan, serangan jantung sering kali memiliki gejala-gejala yang tidak khas. Gejalanya bisa seperti sedang masuk angin, terkena maag, kondisi tubuh terasa cepat lelah, atau gejala umum lainnya yang tidak khas. Untuk mengetahui secara pasti, lebih baik periksakan kondisi jantung setiap setahun sekali, terutama jika sudah memiliki faktor risiko,” kata dr. Amiliana.

Syahlina Zuhal menyatakan harapannya agar para ibu tidak hanya mengedukasi dirinya tentang penyakit jantung dan gaya hidup sehat, tapi juga anggota keluarga, terutama anak-anak agar mereka pun dapat mengurangi risiko terkena penyakit jantung sejak dini.

Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

22,036FansLike
2,981FollowersFollow
4,105SubscribersSubscribe

Recent Stories