Bahaya Susu Formula Banyak Gula

Oleh Suryo Winarno

Masyarakat Indonesia mengkonsumsi berbagai produk susu, ada empat jenis, yaitu susu bubuk (formula dan susu untuk dewasa), susu kental manis, susu cair pabrik, dan susu cair murni. Susu kental manis dianggap bukan susu sehingga diganti nama kental manis sebab kandungan gulanya tinggi.

Anehnya, susu formula juga banyak kandungan gula tak disebut formula namun susu formula. Itulah keberhasilan lembaga pengawas pangan menciptakan diskriminasi dua jenis susu di pasaran.

Untungnya sukses kampanye lembaga pengawas makanan merusak image kental manis tidak diikuti berkurangnya penjualan dan pabrik kental manis tidak tutup.

Maklum kental manis hadir di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, baru sekarang digugat oknum pemerintah tentu konsumen tidak mudah percaya. Apalagi pandemi corona telah meningkatkan kemiskinan. Maka pemenuhan nutrizi keluarga sesuai tingkat daya beli orang tua.

Sejak terjadi perdebatan pemerintah dan DPR pada pertengahan 2018, kreativitas dan inovasi pengelola usaha kental manis menciptakan berbagai macam produk turunan kental manis, kini pabrik susu kental manis bertambah banyak yang menciptakan lapangan kerja dan setoran pajak kepada pemerintah untuk mensejahterakan rakyat, termasuk pegawai lembaga pengawas pangan. Ironis sekali!

Seperti diketahui susu formula dibuat dari bahan susu bubuk impor dari berbagai negara, antara lain Australia, Switzerland, Selandia Baru, Jerman, dan Amerika Serikat. Karena susu dalam negeri yang berwujud cair terbatas ketersediaannya.

Susu cair dapat digunakan bahan dasar memproduksi susu bubuk dan susu formula namun memerlukan energi tinggi sehingga butuh biaya besar.

Karena itu, susu cair cenderung digunakan sebagai bahan baku produksi susu cair yang membutuhkan spesifikasi khusus seperti susu pasteurisasi dan susu cair murni.

Keterbatasan susu domestik untuk pasokan produksi susu dan produk turunan susu maka pengusaha mengimpor susu bubuk. Selanjutnya susu bubuk impor ditambah air menjadi susu cair sterilisasi, jam, yogurt, ice cream, bakery, dan susu kental manis.

Sedangkan susu bubuk tanpa penambahan air pada tahap produksi tapi cukup dicampur dengan bahan tambahan pangan lainnya, langsung menjadi produk seperti susu formula, kopi susu, dan susu jahe.

Susu formula diproduksi dengan proses secara kering yaitu susu bubuk ditambah bahan tambahan pangan lain seperti gula, vitamin, mineral, flavor, minyak ikan dalam mesin mixing, kemudian dikemas dalam kaleng atau alumunium foil dan kemasan luar adalah karton.

Selama lima belas tahun (2003-2017) konsumsi susu bubuk menempati posisi kedua setelah susu kental manis, disusul susu cair steril pabrik (UHT dan Pasteuris), dan susu cair murni.

Konsumsi susu bubuk peringkat kedua karena digunakan bahan baku produk industri makanan dan minuman konsumen kelas atas, sementara susu kental manis menempati posisi teratas sebab jadi bahan baku industri makanan dan minuman yang murah untuk masyarakat menengah ke bawah.

Perkembangan konsumsi susu bubuk per kapita per tahun periode 2013 – 2017 adalah 749 gram, 800 gram, 964 gram, 964 gram, 913 gram. Sedangkan konsumsi susu bubuk formula pada periode yang sama adalah 1.300 gr, 2.300 gr, 676 gr, 676 gr, 676 gr. Berdasarkan data tersebut konsumsi susu bubuk mempunyai tren naik tapi susu bubuk formula turun.

Susu formula digunakan untuk membantu asupan nutrizi bayi dan anak masa pertumbuhan selain ASI. Sebuah penelitian dipublikasikan di British Dental Journal 2020 menemukan susu formula ternyata mengandung gula banyak ketimbang gula dalam minuman bersoda.

Kandungan gula banyak dapat berdampak buruk terhadap perkembangan bayi, antara lain gula yang tinggi pada bayi bisa menyebabkan kerusakan gigi, pola makan yang buruk, kegemukan pada anak-anak. Selain itu, pengaruh gula berlebih adalah resiko penyakit saat dewasa menimbulkan salah satunya diabetes tipe 2.

Dalam penelitian global susu formula yang beredar di negara berkembang mengandung gula dua kali lebih banyak dibanding gula dalam segelas minuman bersoda.

Peneliti menganalisis kandungan 212 produk susu formula yang tersedia di pasaran untuk bayi berusia di bawah tiga tahun. Produk tersebut dijual di supermarket di 11 negara.

Hasilnya studi tersebut menemukan susu formula bayi mengandung gula jenis sirup jagung. Susu formula mengandung gula sebanyak 5 – 7,5 gram per 100 ml.

Sebagai contoh, di Perancis susu formula untuk bayi dibawah enam bulan mengandung gula 8,2 gram per 100 ml. Sementara susu formula siap minum untuk bayi dibawah 12 bulan yang dijual di Inggris mengandung gula 8,1 gram per 100 ml.

Mencermati temuan riset tersebut, sudah tahukah lembaga pengawas keamanan pangan Indonesia bahwa susu formula mengandung gula melebihi standar yang berbahaya bagi bayi dan manusia pada usia dewasa?

Ditunggu tindak lanjutnya lembaga pengawas pangan melakukan riset susu formula di pasar di Indonesia. Benarkan susu formula di Indonesia memenuhi regulasi tanpa melanggar aturan?

Previous articleMasker untuk Buah Hati
Next articleLittle Chef
Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,036FansLike
0FollowersFollow
4,105SubscribersSubscribe

Recent Stories