Still Got The Blues

Intips  

Selamat datang di rubrik Intips, inspirasi dan tips dari Ita Sembiring. Tempat berbagi seputar kisah rumah tangga dan bagaimana menyikapinya. Kita semua boleh ikut berbagi kisah di kolom komentar dan menceritakan hasilnya. Setiap orang tentu bisa jadi inspirasi dan pemberi tips buat sekitar kita. 

Pernikahan bukan teka-teki misterius. Tapi harus diselesaikan secara serius.

Menyimak berita pengacara terkenal yang selalu terlihat rukun, bahagia, harmonis tiba-tiba bercerai, tentu banyak yang kaget. Lalu tak berselang lama, disusul perpisahan Bill Gates dan Melinda Gates meramaikan jagat maya.

Sebagai seorang perempuan, istri, ibu, yang nota bene juga penyantap aktivitas sosial media, aku ikutan kaget. Tak ada pertikaian pengantar atau sebutlah tak terendus netijen apa sesungguhnya terjadi di balik sajian keromantisan dan team work yang akur dalam bisnis maupun kekeluargaan. Paling tidak begitulah terlihat. Lalu-lalang postingan sosial media pun tak lain tak bukan tontonan kemesraan semata.

Lalu sekonyong-konyong dwaaaarrrrr….

Begitulah kisah rumah tangga selalu penuh warna bahkan kejutan tak terduga. Namun apakah selalu harus terkunci di ujung kata berpisah?

Hmm!

Pernah satu kali sebelum lagi senja menjemput aku bertengkar hebat dengan suami. Pemicunya banyak hal, bukan perkara sehari dua hari lalu terjadi. Sebut saja tumpukan masalah seolah tinggal menunggu letusan dan hari itu akan selesai dengan menyisakan kepingan hati terburai.

Kubayangkan pecahan kecil berserakan dari hati kedua anakku, hati suami bahkan hatiku. Tapi karena emosi memuncak, bayangan keping kehancuran itu tak membuat otakku yang dangkal-dangkal keruh ini berkompromi. Malah lengkingan suara tinggi beradu persis adegan sinetron striping kejar tayang.

Arrrgghgg.., masih terasa panas di telinga ucapan tentang aku selalu menyakitinya dan tentu saja kubalas dengan kalimat sejenis, kalau dia selalu menyakitiku.

Begini dialog persisnya: 

“Kamu selalu menyakiti aku…!”
“Kamu yang menyakiti aku…!”

Makin keras…….!

“Kamu….!”

“Kamu….!”

Lalu sama sama terdiam….!

Tja…!  Dia merasa tersakiti. Padahal  kerap kali di bawah langit malam saat semua penghuni rumah pulas, aku meneteskan air mata mengingat sakit yang telah kualami.

Lantas,  apa yang kutahu dari perasaan suami? Menangiskah dia dalam hati? Atau menahan demi harga diri sebagai pria yang umumnya ‘dilarang’ cengeng? Tak pernah aku tahu sampai hari ini.

Jadi sesungguhnya kami sudah saling menyakiti? Bergitu kan logikanya.

Lalu untuk apa bersama lagi? Akhirnya muncul tanya baik dari dalam hati maupun orang sekitar atau sebutlah tetangga  yang kerap jadi ‘pendengar’ kolaborasi suara sopran dan alto, tapi bukan dalam bentuk nada melainkah cerca.

Ajaibnya sampai hari ini kami tetap bersama, 21 tahun mengarungi bahtera dengan gelombang tak tertebak. Ya kami tetap bersama dan akan selalu begitu selamanya, sampai akhir masa.

Meski saling menyakiti?

Ya, sebab tiap penyakit pasti ada obatnya.

Ingin tahu apa yang kulakukan? Maaf, bukan yang kami lakukan, sebab aku belum tanya suami apa yang membuatnya bertahan. Jadi ini sekadar dari yang kulakukan. Sederhana! Setiap habis bertikai, aku ambil waktu berdiam, mengenang semua yang indah pernah terlewati. 

Bisa jadi banyakan buruknya? Tidak apa, sebab yang indah itu sekecil apapun selalu terlihat mengagumkan.

Yakin saja mampu menutup segala yang buruk, bilamana kita mengutamakan keindahannya. Bukan membuat daftar semacam penjumlahan, indahnya 20, buruknya 80, atau senang tiga kali, tapi meratap sampai 97 kali nih. Tak perlu! Meski indahnya hanya satu, tetap itu yang utama seraya memutar lagu yang pernah jadi kenangan bersama.

Kebetulan aku punya tembang lawas, selalu jadi kenangan manis saat kencan pertama sambil nonton liveStill Got the Blues“, oleh Gary Moore.

Yes… I’m still got the blues…  dengan lirik di awal bait pertama berbunyi, Used to be so easy to give my heart away, but i found out the hard way, there’s a price you have to pay……….

Dan aku (baca: kami) bertahan!

Mau coba?

Boleh tinggalkan komen dan yuk berbagi cerita seperti apa hasilnya… ya.  

Karena setiap orang bisa jadi inspirasi dan pemberi tips buat sekitar kita.

Salam cinta penuh sukacita

Ita Sembiring

Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

  1. Menanggapi “Still Got the Blues”aku merasa ada kesamaan dgn yang di ceritakan Ita Sembiring.
    Bagaimana suamiku menyakiti aku, dengan kata2 seolah aku manusia paling jahat di dunia yang penting utk dikasihi, atas peristiwa yang dia lakukan tetapi masih bersikeras bohong kpdku.
    Kupikir dgn suara tenornya bisa menggertak suara sopranku. Aku melangkah seribu dan kucari tempat aman utk kuberlutut… Tuhan Yesus, Engkau Maha Tahu. Masih percaya pdku bahwa aku masih kuat memikul salibku kan? Dan…. salibku basah oleh airmataku. Sudah puas menangis, kesadaranku pulih pelan2 karena ada bisikan “kasihilah musuhmu”……. apalagi suamimu…..???

  2. Wah..kerreeenn..mewakili saya banget…bahkan mewakili jutaan pasangan lainnya….
    Bener banget kak Ita…apapun yg kita jalani dalam perkawinan kita baik itu yg manis dan indah (walau cuma sedikit😆) maupun yg pahit, menyakitkan dan membuat kesal (so many…🤣🤣🤣) rasanya saya belom sanggup buat berpisah dengan si belahan jiwa yg gak cakep2 amat..gak kaya2 amat…wkwkwkwk…tetap menikmati hidup bersama dengannya….

    Bahkan habis bertengkar hebatpun…gak pake lama saya bisa langsung makan bersama dia di meja yg sama dengan lauk yg sama….walau masih dalam diam…karena tau….marah itu bikin laper 😄😄😄

    Intinya….semakin lama kita hidup bersama mestinya makin banyak stok maaf kita dan bisa menerima dengan ilhlas jodoh kita…walau perbandingan bahagia dengan marah 1: 100 🤪🤪
    mungkin itu karena 100 kesalahan terhapus 1 kebaikan

    Terima saja…..percaya saja….jangan lupa bahagia 😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊

    Salam kami,
    Agnes frans glenn puka😘

  3. Terima kasih Mbak Ita.

    Keren !
    Saya ikut terhanyut dengan tulisannya.
    Saling menyakiti dengan caci maki pedas dan kata2 yang menusuk, seolah menjadi pelepasan yang melegakan.

    Tapi, setelah itu tangis pecah sebagai wujud ketidakberdayaan dan frustrasi karena kita tidak bisa keluar dari lingkaran erat , ikatan seumur hidup.

    Kerap kali bertanya, kuatkah aku bertahan.

    Sebenarnya pula, aku seringkali sadar, kalau saja aku mau merendahkan hati datang berbaikan, akan selesai urusannya.
    Tapi hati yg terluka ini masih belum sanggup menerima lecutan kata2 yg menyakitkan .

    Seringkali juga berteriak, Tuhan beri aku kekuatan dan penghiburan.
    Tapi , akupun sadar sebenarnya yg aku butuhkan adalah kelembutan hati untuk selalu datang memaafkan dan menerima apa adanya.

    Kalau mbak Ita merasa dangkal dangkal keruh, otak ku rasanya sudah merembes bocor tipis… 😂.
    Perlu waktu untuk bisa mengeringkan bocoran tipis itu mengering , dan berkerak menutupi pelan2 bocoran tipis itu.
    Dalam hati aku sering membatin, sepertinya aku berada di lorong yang salah.. saat ini yg dibutuhkan sebenarnya bukan otak tapi hati.
    Sadar, aku seringkali menutup pintu hati, bahkan mengeraskan hati supaya tidak mudah terluka lagi.

    Puji Tuhan… tulisan mbak Ita, membuat aku merenungi berkat2 Tuhan yg tak pernah henti tercurah.

    Tuhan sungguh baik , selalu memberikan pertolongan buat semua orang yg berupaya tetap melangkah taat di jalannya.

    Melihat anak2 yang baik dan sehat menjadi penghiburan yang melegakan… ini loh bonus dari paket boros 😂(bukan pahe) yang harus ku pertahankan tuk tetap taat dan kuat melangkah.

    Thanks a lot Mbak Ita❤️.

  4. Ikutan cerita…

    “Selesaikan semua sebelum naik ke tempat tidur”
    Gitu pesen ibu saya pas saya dan suami menikah. Pertengkaran pertama cuma perkara menutup pintu kamar mandi. Betapa berbedanya cara pandang kami soal menutup pintu kamar mandi atau membukanya saat kamar mandi tidak dipakai. 8 tahun pacaran nggak pernah kebayang bakal ada perkara begini…
    Lalu banyak hal lain yang menunjukkan betapa berbedanya kami meskipun banyak yg bilang kami mirip (halah). Tetapi tumbuh menjadi asli, genuine, tanpa pekewuh satu sama lain dalam perkawinan kami justru membuat relasi makin kuat. Sadar betapa rapuhnya relasi kami justru saat saling menahan diri. Bahwa dalam proses ngilangi pekewuh itu seringkali saling menyakiti, nyatanya kami selalu saling merengkuh dalam satu pelukan untuk saling mengobati.

    Note: Kalau pas ribut kepergok anak? Pastikan cerita ke anak kenapa mama papa ribut. Anak punya hak untuk memahami situasi. Jangan biarkan anak mengambil kesimpulan menjadi sebab keribetan. Beri jaminan dan pastikan anak tetap aman dan merasa dikasih.

    Terima Kasih Bu Ita 🙏

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,036FansLike
0FollowersFollow
4,105SubscribersSubscribe

Recent Stories