Pola Asuh Anak dalam Point dan Jam Gadget

Profile – Donny de Keizer

Ada ketetapan tak tertulis, di mana urusan dalam rumah biasanya dijadikan kewajiban para ibu. Sementara kaum ayah katanya kebagian perkara di luar rumah demi memenuhi kebutuhan keluarga. Apalagi soal pendampingan anak-anak, kerap kali dianggap sudah merupakan monopoli kaum perempuan dan pria-pria berperan sebagai pengawas.   

Apa benar begitu? 

“Kalau dalam keluarga saya, terutama soal menangani anak, peran ayah maupun ibu sudah jadi tugas bersama. Kita saling mengisi saja bagian mana yang bisa ditangani. Bukan berdasarkan gender tuh,” kata Donny de Keizer, ayah 6 anak ini, sambil tertawa renyah. 

Keluarga besar de Keizer (keluarga ini besar dalam arti sesungguhnya lho) memang lebih diutamakan adalah berbagi tugas.  News Anchor sekaligus juga praktisi pembicara publik ini ternyata sangat aktif ambil bagian dalam urusan menjaga anak di tengah kesibukan. Bukan soal siapa melakukan apa, tapi memang ada kesepakatan dengan istri untuk saling berbagi tugas.

Tidak sekadar menemani bermain atau mengawasi sambil lalu, tapi sampai turun tangan memandikan, memilihkan pakaian hingga menentukan pola asuh dan peraturan yang berlaku di rumah. Meskipun tak bisa dipungkiri, peran istri tetaplah dominan. 

CEO Communicasting Academy ini mengakui kalau pola asuh yang ditetapkan di rumah merupakan hasil diskusi dan kesepakatan bersama istri. Jadi tidak ada istilah  pola asuh ayah atau ibu. Apalagi sampai dipisah-pisah, aturan ibu begini, aturan ayah beda lagi. Cara atau pendekatan dalam penerapannya tentulah tidak selalu sama. Apalagi Donny dan istrinya Lia datang dari latar belakang sangat berbeda.

Jadi bila sampai terjadi perbedaan pendapat dalam pola asuh, biasanya akan didiskusikan bersama. Terlebih dalam membuat keputusan penting seperti pendidikan misalnya. Hebatnya lagi, kesepakatan ini tidak antara ayah ibu saja, tetapi melibatkan anak-anak yang sudah mengerti untuk ikut serta. Lalu aturan yang telah disepakati bersama itulah yang dijalankan.  

Sepertinya terdengar seram ya kalau semua pakai aturan. Apalagi menurut pengakuan Donny sendiri, dari aturan yang diterapkan bukan tata tertib semata, tetapi tetap ada sistem ganjaran dan penghargaan. Bagi anak-anak sudah pasti tak  mudah untuk mengelak dari aturan sebab semua tertulis bahkan diikuti kolom poin. Dimana nanti pemberian ganjaran maupun penghargaannya berdasarkan kolom poin yang berjumlah 12 ini. Mulai dari jam bermain, mandi pagi dan sore, membersihkan tempat tidur, makanan tanpa sisa dan sebagainya termasuk batas waktu penggunaan gadget. Ganjaran dan hukuman yang diberi cukup sederhana tapi melekat di hati anak-anak. 

“Bila ada anak yang kolom poinnya lebih banyak melakukan kesalahan, maka apa yang menjadi kesukaan mereka akan dikurangi kesempatannya. Sudah bisa diduga apa yang sangat diiinginkan anak-anak pastilah perpanjangan waktu bermain, termasuk bermain dengan gadget. Bila point kebaikan lebih banyak, penambahan penghargaan juga akan bertambah. Entah itu di akhir pekan mendapat tambahan jam bermain hingga belanja on line. Menarik ya…!” tutur Donny semangat.

Kembali lagi, apakah semua aturan itu bisa terlaksana sesuai harapan?

Tentu saja tidak, sebab pastilah ada saat-saat hati Donny sebagai Ayah yang lelah sepulang bekerja langsung luluh melihat anak-anak memohon sesuatu. Pasti langsung dikabulkan. Uniknya lagi, bila itu terjadi, tentu ada anak lain protes, kenapa satu diijinkan, tetapai anak lain dilarang?

Nah, bagian ini sebagai Ayah, yang juga ahli komunikasi ini, dia akan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti kenapa itu terjadi. Intinya, anak-anak tidak boleh melihat itu sebagai kelemahan ayahnya, sehingga lain waktu menjadi senjata pula untuk coba-coba merengek atau  ‘mengelabui’ Ayah yang dianggap mudah jatuh kasihan. 

Hal penting dari pola pengasuhan yang diterapkan Donny sebagai Ayah sesungguhnya bagaimana anak-anak  yang nota bene tidak sedikit jumlahnya itu mengerti akan etika dan menghargai satu sama lain. Bahkan untuk hal sederhana sekalipun. Seperti misalnya soal makanan yang ada di rumah, sebutlah jajanan kecil. Tiap anak harus tahu itu milik siapa.

Memang boleh saja dimakan oleh siapapun tapi wajib minta ijin pada pemiliknya. Begitupun pemilik makanannya, diajarkan juga berbagi. Namun sekiranya terjadi Donny yang juga beli cemilan khusus, tiba-tiba menemukan tinggal bungkus atau hilang tanpa bekas, bagian ini tanpa ganjaran tetapi diajak bicara. Ada penjelasan bahwa tiap orang harus menghargai milik orang lain sekalipun itu Ayahnya, kakak atau adik. 

“Aturan yang dibuat bukan untuk membuat anak-anak menjadi takut, apalagi merasa tak nyaman hingga kehilangan kebahagiaan masa kanak-kanaknya. Tetapi lebih untuk mengajarkan etika sejak dini. Dan kita sebagai orangtua juga jangan hanya memberi aturan, tapi juga mencontohkan,” begitu kata Donny. (LCB)      

Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,036FansLike
0FollowersFollow
4,105SubscribersSubscribe

Recent Stories