Kupas Diri Selapis demi Selapis

Profile – Lilin Imam R

Mengecap pendidikan di sekolah unggulan ternyata tidak semata menjamin kenyamanan belajar buat Lilin Imam di waktu lalu. Meski seluruh kebutuhan terpenuhi berikut fasilitas tercukupi, ada  rasa tidak nyaman di sekolah maupun dalam keluarga karena selalu dilihat dari kekurangan. Nah, kenapa bisa ya, dalam kesempurnaan justru ada ketidaknyamanan?

“Orangtua selalu memberikan yang terbaik untuk saya menurut mereka. Sayangnya cara menyampaikan seringkali kurang asik hingga menjadikan saya tumbuh sebagai pribadi yang menjengkelkan di rumah,” tutur Lilin sambil mengingat masa kecilnya.

Pola komunikasi dan gaya orangtua yang selalu memaksakan kehendak meski konon demi sebuah kebaikan itu terbentuk sedemikian rupa dalam keluarga. Tidak hanya kepada Lilin, juga anak-anak lain berlaku hal sama. Akibatnya  anak-anak jadi melakukan hal serupa juga. Menegur dengan kalimat tidak menyenangkan, mebandingkan satu sama lain, menasihati dengan nada tinggi bahkan memaksakan kehendak. Ini kerap menimbulkan banyak ketidak cocokan dan miskomunikasi  dalam keluarga.

“Ketika mencoba memahami kenapa demikian, ternyata memang pola asuh seperti itu pula didapatkan orangtua saya dulu dari orangtuanya. Ini jadi kebiasaan turun temurun,” jelas Lilin lagi. Akhirnya berusaha mencari jalan keluar sebab sudah mempengaruhi kondisi fisik, mental, sekaligus karakter tentu saja. Dia sadar menjadi  pribadi yang menjengkelkan karena  juga selalu dibuat jengkel oleh lingkungan dimana dia tumbuh.

Ketika Lilin merasa adalah sulit mengubah yang sudah jadi pola asuh turun temurun dalam keluarga, maka dia sadar bahwa kuncinya ada pada diri sendiri. “Saya berusaha mengupas diri selapis demi selapis dan sempat kaget juga mendapati banyak sekali  harus dibenahi dalam diri saya. Ada luka terbuka, tersembunyi bahkan bernanah,”  tuturnya semangat tanpa bermaksud menyalahkan situasi.

Niatnya untuk menjadi lebih baiklah jadi alasan melakukan semua ini. Saat itu juga muncul inisiatif dalam diri untuk memutus rantai ‘pola asuh’ yang tidak tepat tadi dan segera berbenah diri. Dengan tekad  harus tetap sadar akan apa yang dipikirkan dan perbuat agar kelak anak-anaknya tidak menjadi korban pola asuh pula. Harus menjadi pengaruh baik bagi anak-anaknya termasuk orang sekitar.

Salah satu aksi nyata Lilin memutus keprihatinan pola asuh yang dialami, Lilin memilih berkarier di dunia pendidikan dengan mengembangkan metode SEAL – Strenghth Based Living atau pola hidup berbasis kekuatan.

Metode ini diperkenalkan ke masayarakat dengan cara memulai dari diri sendiri. Menjalani dan memberikan pengalaman nyata ke orang sekitar. Lilin yakin, orang yang sembuh akan menyembuhkan, sementara orang sakit akan menyakiti. Dia sendiri  baru menyadari saat di usia dewasa ternyata memiliki disleksia ringan yang membuatnya di masa sekolah sekolah dulu  kerap  mengalami kesulitan hingga  berujung masalah.

Namun sejak berusaha mengenali diri dengan mengetahui kekuatan dan kekurangan diri jadi lebih nyaman dan menyampaikan buah pikiran melalui gambar.

Semua pengalaman pribadi ini dijadikan tonggak dasar dalam meperbaiki situasi di sekitarnya. Sebagaimana terjadi dengan salah satu rekan kerja yang selalu frontal bila mengungkapkan pendapat. Dia menyadari orang itu memiliki kemampuan berkomunikasi  tinggi, lalu difasilitasilah mengasah kekuatan ini hingga menemukan hal hal luar biasa terjadi pada dirinya dan lingkaran pergaulan. 

Dengan mengetahui kekurangan dan kelebihan seseorang kita bisa merangkainya menjadi sesuatu yang luar biasa. Hanya dengan mengubah sudut pandang, hidup akan menjadi ringan dan tetap seru.

Berusaha melakukan perbaikan bukanlah hal mudah. Jatuh bangun sudah pasti sebagaimana juga dialami oleh Lilin, tetapi tetap pantang menyerah meski selalu tersimpan pertanyaan, apakah ini berhasil?

Sekalipun misalnya gagal, segera mencari cara lain. Segala yang di luar kendali tidak akan diambil pusing, sebab hanya fokus pada perkara yang bisa dia kendalikan saat  mulai mengambil aksi. Bila yang dilakukan berhasil akan dibuat duplikasi dan bila tidak, langsung mencari tahu kenapa sampai gagal agar tidak terulang. Hal begini selalu berkecamuk dalam benaknya sampai menemukan pola yang pas.   

Bagi Lilin bila ingin berkontribusi dalam pendidikan anak Indonesia, harus selalu mencari jawaban semua pertanyaan yang ada dalam pikiran.

“Jika itu membuat dirimu dan orang lain menderita, berarti itu bukan jawaban. Namun sekiranya  membuat dirimu dan orang lain damai, berarti itulah jawabnya. Hadiah terbaik untuk orang yang kita cintai adalah sehat secara pikiran, fisik, mental dan karakter,” demikian Lilin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan di Merlion School Surabaya menutup perbincangan. (GE)

Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

22,036FansLike
0FollowersFollow
4,105SubscribersSubscribe

Recent Stories