8 Cara Dampingi Anak Bermedia Sosial

Meski Membuat Cemas, Harus Tetap Waras!

KOLOM DIGITAL EDUCATION OLEH M. GORKY SEMBIRING

Bukan lagi waktu untuk mempertanyakan menggunakan atau tidak menggunakan media sosial. Tapi, seberapa baik kita mampu memanfaatkannya secara positif dan produktif?
Ingat, Anda adalah apa yang Anda bagikan!

Pandemi global. Keretakan sosial. Kegamangan berinteraksi. Lalu, baru saja: Perang (lagi)! Dan, seolah sudah lazim, marak pula penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian. Entah rekayasa atau alami, dalam pengertian “hal” yang harus kita lalui untuk mendapatkan ekuilibrium (harmoni) baru.

Seperti Omicron, konon merupakan pamungkas pandemi Covid-19 yang kelak akan menjadi endemi. “Menjadi penyakit biasa”, datang dan pergi secara alami. Terlalu banyak yang tak kita ketahui. Lebih banyak lagi hal yang tak mampu kita kendalikan.

Konsekuensi logis: Jelas melahirkan rasa cemas atau was-was, kadang juga gemas. Begini amat ya cerita hidup ini? Cemas dan gemas merupakan konsekuensi logis yang lahir dan hadir secara natural. Tak dapat ditahan apa lagi dikendalikan secara sadar. Bayangkan tingkat kecemasan, dipicu kondisi yang selain di luar kendali juga kita tak paham bagaimana menangkalnya, apalagi mengenyahkan dari kitaran hidupnya jiwa raga.

Baca juga: 7 ‘Pelajaran’ Membangun Daya Juang Anak, Berkaca pada Sekumpulan Singa

Alkisah, seseorang pembuat (penemu) hal bagus, diawali niat baik, bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang, namun, selalu ada efek samping. Ujungnya bahkan berpotensi merusak dibanding manfaatnya. Seperti kehadiran media sosial, sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Dari segi niat, awalnya pasti didasari kemaslahatan bagi semesta. Pasti demi kebaikan. Dalam perjalanannya, ternyata banyak juga hal tak bermanfaat ikut hadir, sebagaimana disebut unintended consequences! Akibat tak terduga, di luar perhitungan.

Semacam paradoksal atau ironi. Sebutlah, balon dapat terbang jika diisi udara, tapi secara bersamaan jadi rentan pecah. Jika tidak diisi udara, tidak rawan pecah namun mustahil terbang. Atau kapal dibangun demi mengarungi Samudra, tetapi jadi rawan karam akibat ombak dahsyat. Supaya aman, maka kapal lebih baik ditambatkan saja di dermaga. Apa iya begitu?

Foto oleh Zhang Kaiyv dari Pexels

Coba lihat jika dikaitkan dengan mendampingi anak-anak di masa pertumbuhan, pencarian jati diri dan pembekalan pendidikannya. Jika dikekang peraturan super ketat, mereka pasti merasa kesepian di keramaian. Bila diberi peluang kebebasan, jangan-jangan lepas bablas.

Terlebih di era digital kini. Bermodalkan perangkat selular pintar terhubung internet, siapapun bisa mendadak menjadi warga dunia. Mudah, murah, cepat dan akurat mengakses informasi, meski tentunya selalu punya dua sisi ekstrim, yaitu manfaat dan/atau mudarat.

Parents Guide
Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,451FollowersFollow

Recent Stories