Belajar Sejarah Jawa di Ullen Sentalu

Ullen Sentalu singkatan dari Ulating Blencong Sejatining Tataraning Lumaku yang bermakna terang adalah penuntun jalan kehidupan. Blencong sendiri adalah lampu yang digunakan sebagai penerang dalam pertunjukkan wayang kulit. Museum ini berdiri dengan tujuan melestarikan peradaban seni dan budaya Jawa.

Ullen Sentalu terletak di daerah Kaliurang, dekat dengan kaki Gunung Merapi. Jika dilihat eksteriornya, museum ini perpaduan dari unsur tradisional yang menyatu dengan alam dan modern dengan bangunan kaca berstruktur baja.

Semua pengunjung harus menggunakan jasa pemandu agar dapat memahami,  mengerti dan menambah pengetahuan tentang sejarah Jawa. Di dalam Ullen Sentalu juga tidak diperbolehkan untuk memfoto apalagi memvideokan. Tak usah khawatir, di beberapa titik pengunjung tetap diperbolehkan untuk berfoto.

Tiket masuk Ullen Sentalu

Selasar kecil berkelok akan menyambut pengunjung dengan naungan pohon-pohon rindang. Suasana di dalam memang terasa lebih sejuk dan tercium harum tanah basah yang khas sepanjang perjalanan hingga tiba di area pertama

GUWO SELO GIRI

Bangunan menyerupai bunker yang berada 3 meter di bawah permukaan tanah. Dinding dari ruangan ini tersusun dari batuan Andesit hasil letusan Gunung Merapi, percaya atau tidak walaupun ruangan ini terpendam 3 meter di bawah tanah suasana sejuk dan dingin tetap mendominasi seluruh ruangan di Guwo Selo Giri ini.

Pintu masuk dari Selo Giri dibuat rendah sehingga siapapun yang berkunjung harus sedikit membungkuk, maknanya adalah kita harus sopan saat masuk ke rumah orang lain dengan cara membungkukkan badan seperti memberikan hormat kepada sang empunya.

Di dalam Guwo Selo Giri terdapat 2 ruangan, yang pertama berisi lukisan tari-tarian dan perangkat gamelan. pemandu kami menjelaskan bahwa raja-raja jaman dahulu tidak hanya harus mahir berperang tapi juga harus mahir menciptakan satu tarian (berkesenian). Gamelan pun mendapat kedudukan penting dalam satu kesenian sehingga seluruh gamelan dalam ruangan ini memiliki namanya sendiri-sendiri.

Ruangan kedua berisi silsilah kerajaan Jawa (Mataram) yang terpecah belah menjadi 2 wilayah (Yogyakarta dan Surakarta) dan seiring berjalannya waktu, masing-masing wilayah ini mengalami perpecahan kembali sehingga kini ada 4 wilayah yang mendukung terbentuknya warisan kebudayaan Jawa.

Masuk ke dalam lagi, kanan kiri dinding dipenuhi lukisan dan foto-foto keluarga Sultan. Penjelajahan di Guwo Selo Giri diakhiri dengan pigura kaca berisi aksara Jawa “Hanacaraka, Data-Sawala, Pada Jayanya, Magha-Batanga”. Ternyata bukan sembarang susunan aksara tetapi memiliki makna yang berkisah tentang 2 orang berselisih yang sama-sama memiliki kesaktian dan akhirnya keduanya tewas.

Beberapa area yang diperbolehkan untuk berfoto

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,450FollowersFollow

Recent Stories