Bosscha Bukan Sekadar Observatorium, Sepenggal Kisahnya Tertoreh di Malabar

Bagai permadani di kaki langit, gunung menjulang berpayung awan”

Bait lirik lagu anak ini persis seperti apa yang akan dijumpai begitu memasuki Perkebunan Teh Malabar di wilayah Pengalengan. Hamparan perkebunan teh membentang, berlatar barisan bukit hijau yang dipayungi awan kelabu. Coba matikan pendingin kendaraan dan buka kaca jendela lebar-lebar untuk mengirup harum tanah basah.

Perkebunan Teh Malabar

Di tengah perkebunan teh ini berdiri rumah bergaya khas Belanda. Tak banyak yang tahu bangunan ini adalah kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha. Nama Bosscha sendiri tentunya tak asing. Namanya terlanjur lekat dengan teropong bintang Bosccha di Lembang. Padahal di sini, di antara kebun teh, berselimut udara pegunungan, 50 Km dari pusat kota Bandung, Malabar-Pangalengan, banyak kisah tentang Bosscha yang terukir.

Rumah dengan langit-langit yang rendah mampu menimbulkan suasana hangat. Terlebih saat memandang gambar diri Meneer Bosscha, pria gemuk berkumis dengan senyum simpul, tidak ada kesan seram, hanya kehangatan seorang tuan rumah yang menyapa tamu yang berkunjung. Hampir seluruh isi rumah adalah asli peninggalan dari beliau. Piano besar yang masih berfungsi hingga furniture di beberapa sudut ruang. Hanya kamar saja yang sempat mendapatkan renovasi cukup banyak karena rusak saat terjadi gempa di Pangalengan.

Karel Albert Rudolf Bosscha

Halaman kediaman Bosscha yang cukup luas kini difungsikan untuk penginapan. Ada yang berupa kamar ataupun villa kayu yang mampu menampung hingga 8 orang dewasa. Udara dingin khas pegunungan, bukit-bukit hijau akan menjadi teman saat bermalam di sini. Belum lagi kabut yang menyapa setiap menjelang senja atau saat mentari pagi masih meringkuk di balik bukit hijau. Jika beruntung, langit bertabur bintanglah yang menjadi teman saat terlelap di malam yang cerah.

Villa Kayu Malabar

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,451FollowersFollow

Recent Stories