Fidensius Gunawan: 3 Langkah Awal Ambil Keputusan Berat demi Masa Depan Anak

“Pa, ada kesempatan beasiswa sekolah di Singapore nih. Boleh ya Cindy ikut, siapa tahu dapat.”, kata putri keduaku saat masih duduk di kelas VIII. Aku senang, karena keinginannya yang besar untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.

Tapi sisi lain, aku merasa sedih juga, apakah secepat ini kami akan hidup berjauhan. Namun yang keluar dari bibir, hanya kata-kata dukungan. Tak ingin perasaan sedih mempengaruhi daya juangnya.

Singkat cerita, ia mengikuti berbagai ujian untuk memperoleh beasiswa tersebut. Setahap demi setahap ujian berhasil dilalui. Namun pada tahap akhir, saat wawancara dalam Bahasa Inggris, gagal.

Apakah kegagalan ini mengubur niatnya menempuh pendidikan di luar?
Ternyata tidak, tetap memelihara niat.

Saat kenaikan kelas X, Cindy kembali menyampaikan keinginan kuliah di luar negeri. Kali ini tujuannya Jerman, yang menyediakan pendidikan gratis bagi siapapun. Dia paham kalau ayahnya tidak akan mampu membiayai kuliah kalau di Singapore, Australia, apalagi Amerika. Jadi pihannya Jerman sebab tersedia pendidikan gratis.

Baca juga: Working Moms, Ini 6 Tips Work-Life Balance Dari Violet Lim CEO Lunch Actually

Setelah mendapat lampu hijau, dia langsung ngebut belajar Bahasa Jerman di Goethe Institute ditambah les privat. Rupanya kali ini dia berada dalam jalur yang pas dan Tuhan pun berkenan.

Mengikuti ujian Bahasa Jerman level B1 sebagai syarat minimum, dia berhasil. Termasuk berhasil meraih beasiswa dari Goethe Institute untuk program studienkolleg. Semacam program pra-kuliah yang harus ditempuh semua calon mahasiswa asing guna penyetaraan beberapa pelajaran seperti Matematika, Fisika, Kimia yang disesuaikan dengan jurusan kuliah yang kelak ditempuh. Diselenggarakan oleh Studeinkolleg Indonesia bekerjasama dengan Studienkolleg Niedersachsen Leibniz Universitas Hannover.


Dengan berhasil meraih beasiswa ini, otomatis Cindy tidak langsung berangkat. Ada waktu setahun masih tinggal bersama kami. Bagaimanapun, ini sangat membantu kami orang tua untuk mempersiapkan hati. Melepas anak pergi jauh, bahkan sangat jauh, tentu tidak mudah. Galau. Apalagi anak perempuan, ada rasa was-was berlebih.

Baca juga: Bagaimana Mengenali Masa Sensitif Anak dan Tanda-Tandanya?

Dalam waktu penantian ini akhirnya banyak hal yang dipelajari dan bisa jadi tips melepas anak perempuan sekolah ke negeri jauh. Ini yang kami lakukan untuk menghadapinya.

1. Cari tahu tentang kehidupan di Jerman.

Langkah awal paling sederhana adalah bertanya kepada teman dan saudara yang pernah kuliah atau hidup di sana. Semua menyatakan bahwa kuliah di Jerman adalah suatu kesempatan baik bahkan sangat baik. Semua mendukung sambil memberi berbagai saran. Bahkan ada seorang teman di lingkungan kami yang sangat menguatkan dan juga menjadi motivasi anak kami. Semua informasi dan dukungan ini membuat kami lebih siap melepas putri kami ini.


2. Tetapkan Pilihan yang sesuai

Sebagai anak yang punya keinginan, Cindy juga bijaksana. Setelah berhasil lulus studienkolleg ia tidak muluk-muluk mencari universitas lain, dimana dibutuhkan tes masuk dan menjadikan ketidakpastian. Ia memutuskan memilih Universitas Hannover. Ia pun memutuskan ikut program gastfamilie yang difasilitasi kampus.

Ini adalah program membantu mencarikan keluarga Jerman yang bersedia menerima mahasiswa asing yang baru akan kuliah. Jadi jauh hari sebelum berangkat, sudah diketahui di mana Cindy akan tinggal dan bersama keluarga siapa.

Parents Guide
Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,451FollowersFollow

Recent Stories