Hati yang Gembira adalah Obat

Oleh Dr. Edi Setiawan Tehuteru, Sp.A(K), MHA.

Penelitian yang dilakukan di Wake Forest University, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa stres emosional dapat menyebabkan sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap kanker, bahkan dapat mengurangi efek kemoterapi/pengobatan yang sedang berlangsung. Hasil penelitian sebenarnya ingin menyimpulkan bahwa seorang yang sehat harus bahagia agar tidak terkena kanker dan yang sedang menjalani kemoterapi/pengobatan juga harus bahagia supaya obat-obat yang diberikan dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan.

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa kalimat “Hati yang Gembira adalah Obat” benar-benar bermakna dan harus diterapkan oleh semua orang dan khususnya bagi pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan. 

Bagaimana mewujudkannya? Dapat dimulai dari orang-orang terdekatnya terlebih dahulu. Jika anda adalah orangtua dari seorang anak yang sedang menjalani kemoterapi, tunjukkan bahasa tubuh yang positif. Muka yang ceria dan cenderung banyak senyum. Jangan perlihatkan wajah yang sedih dihadapannya. Wajah sedih justru akan membuat sang anak turut merasa sedih karena ia merasa bersalah membuat ibunya seperti yang dilihatnya. Semangat yang dipancarkan orangtua ketika mendampingi anaknya berobat dapat membantu si anak untuk semangat juga menjalani pengobatan yang sedang dijalankan.

Sebagai dokter, saya tidak pernah melarang orangtua untuk menangis. Namun, kalau mau menangis, janganlah menangis di hadapan anaknya. Nangislah ditempat yang tidak terlihat oleh si anak. Saat masuk kembali ke dalam kamarnya, pastikan sudah cuci muka sehingga mukanya tidak terkesan habis menangis. Anak yang sedang menjalani pengobatan kanker cenderung sensitif atau istilah anak-anak sekarang “baperan”.

Foto oleh Polina Tankilevitch dari Pexels

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,454FollowersFollow

Recent Stories