Rafly Dwi Marzuq: Menang Melawan Kanker Setelah Tertendang dan Beasiswa ke Amerika

Tetap berpengharapan dalam kesakitan adalah modal utama kesembuhan. Sebab dalam harapan kita masih bisa mendengar nada-nada masa depan.

Meminjam ucapan orang bijak, kadang dibutuhkan krisis untuk mendorong sebuah pertumbuhan. Dan terjadi pada Rafly Dwi Marzuq, saat dinyatakan terkena kanker di usia tumbuh kembang dan menikmati masa kanak-kanak sebagai siswa kelas 5 SD.

Perjalanan panjang berawal dari keisengan di kolam renang, Rafly menarik temannya ke tempat dalam. “Karena panik, temanku berusaha melepaskan diri. Nggak sengaja wajahku tertendang,” Rafly jujur mengakui kejahilan waktu itu.

Masih bercanda tawa, mereka tetap berenang dan bermain. Keesokannya, bagian yang tertendang membengkak. Saat ke dokter, ternyata peristiwa tertendang tanpa sengaja, membuat terdeteksi secara dini kalau Rafly terkena kanker getah bening. Sangat tak terduga melihat betapa aktif dan ceria Rafly di masa tumbuh kembang itu.    

Mengertikah Rafly kala itu soal kanker?

Takutkah menghadapi serta menjalani hari selanjutnya?

“Pernah sih dengar dari Televisi. Tapi umur segitu kan nggak terlalu ngerti seberapa serius penyakit kanker. Setelah diagnosa, jadi lebih ingin tahu dan mulai cari info. Tapi jujur saat itu nggak ada rasa takut. Bersyukur karena ketendang tidak sengaja, jadi lebih cepat terdeteksi,” tuturnya bijak dalam ketenangan mengagumkan.

Sejak itu Rafly menjalani proses pengobatan berbagai treatment atas saran dokter yang menangani. Semua dipatuhi penuh perjuangan.

Rafly kecil berjuang melawan kanker

“Seingatku saat itu, dokternya sama sekali tidak panik. Jadi menurutku, beliau yang paham penyakit saja tenang, kenapa aku yang tidak tahu apa-apa ini harus panik. Kan dokter lebih tahu. Jadi aku tenang berada di tangan yang tepat, meski sering dengar probabilita pasien kanker bertahan tidak besar. Menurutku selama masih ada harapan, harus dikejar terus. Apalagi doa, dukungan dan upaya orangtuaku tidak putus. Kami berjuang bersama,” ungkap Rafly.

“Entah apa jadinya kalau saya tidak iseng dan tertendang!”

Luar biasanya pula, hasil tekad dan perjuangan ini mengantar Rafly melanjutkan kuliah di Amerika.  

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,450FollowersFollow

Recent Stories