Toxic Parenting dan 4 Indikatornya

Moms and Pops, setiap orang memang punya caranya sendiri dalam mengasuh anak. Bahkan antara pasangan saja tidak jarang kita akan berbeda metode pendekatan ke anak. Satu hal yang pasti, di hadapan anak, sebagai orang tua kita harus kompak agar si kecil mendapat tumpuan yang kokoh dalam perkembangannya.

Selain itu, sangat menguntungkan bila orang tua mengevaluasi pola didik yang mereka terapkan agar tidak terjebak dalam siklus yang saat ini marak dikenal sebagai “Toxic Parenting”.

Apa sih itu “Toxic Parenting” sebenarnya? ParentsGuide.co akan coba mengupasnya untuk Moms and Pops kali ini.

Dalam buku [1]Poisonous Parenting – Toxic Relationships Between Parents and Their Adult Children, dijelaskan bahwa “Toxic Parenting” adalah ketika pendekatan orang tua dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak merusak kemampuannya untuk membangun koneksi sehat ke depannya dengan anggota keluarga, teman, dan individu lain.

Buku karya tiga orang penulis dan editor Shea M. Dunham, Shannon B. Dermer dan Jon Carlson ini menjabarkan pola asuh yang seringkali tidak disadari kita lakukan padahal berpotensi memberikan pengaruh negatif terhadap anak.

Akan tetapi, sebelum kita mulai baiknya kita luruskan terlebih dahulu bahwa tidak ada orang tua yang tidak menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Artikel ini mencoba memberikan perspektif lebih luas atas apa yang seringkali terjadi dalam hubungan orang tua-anak yang dapat berdampak negatif:

  1. Pageant Parenting. Ketika orang tua terlalu memproyeksikan diri mereka kepada sang anak sehingga harapan dan mimpi mereka yang belum kesampaian seakan menjadi beban sang anak untuk memenuhinya sehingga ia dapat merasa tertekan karena tidak mendapat kesempatan mengekspresikan dirinya. Hal ini dapat berupa eksploitasi dengan menuntut anak menjadi yang terpintar atau paling berbakat, melebih-lebihkan prestasi sang anak di depan orang lain padahal belum tercapai dan pada saat bersamaan di kesempatan berbeda justru mengkritik sang anak secara berlebihan entah agar lebih termotivasi atau sekedar menyemangati.
  2. Dismissive Parenting. Pola asuh ini muncul ketika ada jarak signifikan antara orang tua dengan anak, baik secara fisik, emosional, maupun finansial. Hal ini bisa saja terjadi di antara anggota keluarga walau serumah ketika orang tua sekedar melakukan beragam hal untuk sang anak hanya karena mereka merasa hal tersebut memang harus dilakukan dan bukan karena disadari bahwa sang anak memang membutuhkannya. Ada juga pola asuh timbal-balik di mana orang tua berinteraksi dengan anak hanya ketika merasa sedang ada waktu dan bukan sebuah keharusan. Anak jadi tidak punya kepastian kapan dapat meluangkan waktu dengan orang tua dan bisa jadi akhirnya merasa orang tua tidak bisa diandalkan kehadirannya.
  3. Contemptuous Parent. Yaitu juri dan hakim dari perilaku, kebutuhan, keinginan, dan mimpi anak yang seringkali diekspresikan secara blak-nlakan dalam bentuk cemooh, sindiran, bahkan memberikan nama ejekan seperti “si pemalas” karena seringkali tidak langsung mengerjakan apa yang disuruh atau “si tukang tidur” ketika beberapa kali bangun kesiangan. Hal-hal di atas bila berlangsung lama dapat menyebabkan karakter anak yang tadinya tidak seperti yang disebut lama-kelamaan menjadi kenyataan karena berulang-ulang disampaikan dan anak menjadi “terbiasa” dengan anggapan itu, alih-alih mengubah tabiatnya.
  4. Overparenting. Selain tiga hal utama di atas, ada lagi satu hal tambahan yang sebaiknya dihindari: Overparenting yang dilakukan oleh orang tua yang dijuluki “Helicopter Parents”, di mana orang tua cenderung mengambil sikap terlalu melindungi sang anak sehingga malah jadinya kerap mencampuri urusan sang anak sampai terlalu detail yang dapat membuat sang anak tidak nyaman. Contohnya ketika tidak hanya membantu mengerjakan PR ketika si kecil kesulitan, tetapi juga datang ke sekolah dan meminta guru agar memberi perhatian khusus untuk anaknya.

Baca juga: 7 Keterampilan Hidup Dampingi Anak ke Masa Depan

Lalu, seperti apa sih sebenarnya parenting yang ideal itu?

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,451FollowersFollow

Recent Stories