Tantrum pada Anak Balita: Bukan Pertanda Nakal

Tantrum adalah ledakan emosi yang terjadi pada anak. Menurut R.J. Fetsch dan B. Jacobson dari Colorado State University Extension, tantrum pada anak balita umum dialami saat berusia 1 hingga 4 tahun. Tetapi, puncaknya biasa terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun, dan perlahan berkurang seiring bertambahnya usia anak.

Anak bisa tantrum di mana saja, tak peduli walau itu di depan umum. Bahkan, terkadang ada anak yang ledakan emosionalnya makin menjadi-jadi jika diperhatikan banyak orang. Kalau sudah begitu, rata-rata orang tua pasti merasa jengkel dan kewalahan. Ada juga yang sampai kebablasa “main” tangan, membentak, atau memberi ancaman agar anak lekas diam dan takut. Bukan hanya itu, orang tua yang pemahamannya kurang tentang tantrum akan mengira anaknya nakal dan sulit diatur.

Ada anak yang ledakan emosionalnya makin menjadi-jadi jika diperhatikan banyak orang.

Padahal, tantrum bukan perilaku yang mengindikasikan anak nakal. Ledakan emosional yang sulit dikendalikan itu sebetulnya terjadi karena anak tidak selalu pandai mengungkapkan keinginan dalam bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh orang dewasa. Menangis, berteriak, menendang, melempar, atau meronta hanya bentuk representatif dari suatu maksud yang gagal tersampaikan. Sehingga anak membuang energinya habis-habisan hanya agar orang tua tahu apa yang sedang diinginkan atau dirasakannya.

Penyebab Anak Tantrum

Tantrum pada anak balita tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum anak mengamuk, pasti ada suatu indikator pendahulunya. Hanya saja tidak semua orang tua cepat tanggap, sehingga anak merasa kehendaknya tidak diakomodasi orang tua. Amukan itulah yang menandakan anak protes, tapi justru diartikan sebagai suatu sikap nakal bagi para orang tua.

Amukan itulah yang menandakan anak protes, tapi justru diartikan sebagai suatu sikap nakal bagi para orang tua.

Ada beberapa penyebab yang mengakibatkan anak sampai tantrum, antara lain:

  • Merasa bosan. Ini biasa terjadi ketika anak tak memiliki teman bermain. Mungkin awalnya ia bisa asik dengan mainan-mainan yang Anda berikan. Tapi yakinlah bahwa itu hanya semantara waktu, sewaktu-waktu ia bisa merasa jemu sendiri.
  • Mengantuk. Anak-anak mengantuk tak kenal tempat. Saat di keramain sekalipun ia bisa mendadak merasa ngantuk. Ada anak yang bisa tertidur dengan cepat walau hanya di pangkuan orang tuanya saja. Tapi ada anak yang hanya mau tidur di tempat yang nyaman dan nyaman. Sehingga anak menjadi kesal lantaran mengantuk, tapi tempat di sekitarnya berisik dan tidak nyaman.
  • Kepanasan. Udara panas juga sering menyebabkan anak mudah sekali mengamuk. Usahakan tidak membawa anak-anak ketika Anda harus beraktivitas lama di ruang terbuka yang terik atau di pusat-pusat keramaian yang terlalu padat.
  • Sakit yang menimbulkan keluhan berulang. Anak-anak bisa merasakan frustrasi karena keluhan penyakit yang datang berulang-ulang. Contoh kecilnya, ketika anak mengalami sakit gigi. Rasa berdenyut-denyut yang menyiksa terkadang tak lekas hilang meski sudah diberi obat pereda. Sehingga anak menyampaikan penderitaannya itu dengan menangis hebat atau memberontak.

Itulah informasi singkat yang dapat kami paparkan untuk para pembaca setia. Ke depannya, hindari mencap anak nakal apabila ia tantrum. Yakinlah bahwa tantrum pada anak balita ini wajar dan akan berakhir dengan baik jika diatasi secara tepat.

Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

21,914FansLike
0FollowersFollow
4,105SubscribersSubscribe

Recent Stories