Berkeluarga dan Berkarier: Multitasking Efektif? 

“Harus bekerja, harus mengurus anak, harus aktif berkegiatan di tetangga, harus mengerjakan tugas sembari menempuh pendidikan, harus…. istirahat sebentar, boleh?”

Kolom dr. Laksmita Dwana, S.S.

Multitasking atau mengerjakan beberapa tugas dalam satu waktu menyiratkan adanya lebih dari satu tugas yang harus diselesaikan di waktu yang sama, di mana di antara masing-masing tugas tersebut tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

Dalam perspektif neurosains, multitasking terkait dengan bagian otak yang bernama area Brodmann 10 yang berperan utama dalam working memory dan dual-task performance dan korteks prefrontal, yaitu sebuah daerah kortikal di anterior lobus frontal terhadap korteks motorik asosiasi dan primer; di mana bagian ini terlibat dalam perencanaan perilaku kognitif yang kompleks, ekspresi kepribadian, dan perilaku sosial.

Salah satu fungsi yang dihubungkan dengan korteks prefrontal adalah multitasking, terutama dalam proses seleksi dan pemeliharaan yang memungkinkan kita untuk menyesuaikan perilaku terhadap rencana internal, dibandingkan dengan selalu berespons terhadap lingkungan eksternal. 

Meskipun berbagai riset mengatakan bahwa multitasking bersifat kurang efisien, faktanya kemampuan multitasking banyak dibutuhkan dalam kegiatan sehari-hari. Dalam menjalankan rutinitas, banyak orang mengandalkan kemampuannya untuk mengatur dan merencanakan tindakan ke depan, sehingga mereka dapat menyelesaikan beberapa aktivitas pada waktu yang tepat dan efisien, seperti seseorang makan sambil menonton televisi, mendengarkan lagu sambil menyetir, menulis catatan sambil mendengarkan penjelasan dari pemateri, ataupun menjadi orang tua yang merangkap tugas sebagai pekerja yang memiliki karier.

Baca juga: Menangis di Hadapan si Kecil, Bolehkah?

Kemampuan untuk memprioritaskan, mengatur, dan melaksanakan sejumlah tugas yang berbeda dalam waktu terbatas merupakan komponen dalam multitasking. Tak jarang kita temukan kejadian dimana orang tua harus membantu pekerjaan rumah anak dari sekolah sembari menyelesaikan deadline dari kantor.

Zannella M dan De Rose A mengungkapkan bahwa orang tua yang menjalani kehidupan multitasking tidak sepenuhnya menikmati waktu bersama anak. Selain itu, tingkat kesejahteraan atau well-being orang tua pun lebih rendah pada orang tua yang menjalani kehidupan dengan prinsip multitasking, terutama pada single parent.

Dapat disimpulkan bahwa performa dalam memberikan perhatian dan dukungan pada anak (childcare) lebih maksimal apabila kedua orang tua mampu bekerja sama sesuai dengan porsi masing-masing dan fokus untuk menyelesaikan tugas utamanya terlebih dahulu sebagai orang tua.

Photo by Tyson on Un

Kendalanya adalah kita, sebagai orang tua, perlu menjalani realita di mana harus menyesuaikan kebutuhan yang ada untuk sehari-hari; di mana bekerja dan berkeluarga perlu dilakukan secara simultan. Pertanyaannya, bagaimana cara untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi multitasking antara bekerja dan berkeluarga?

Parents Guide
Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,450FollowersFollow

Recent Stories