Stressor Juga Diperlukan dalam Perkembangan Anak

“Healthy development can be derailed by excessive or prolonged activation of stress response systems in the body and the brain.”

Kolom dr. Laksmita Dwana, S.S

Adverse Childhood Experiences (ACEs) adalah kejadian traumatis yang terjadi di masa kanak-kanak (usia 0-17 tahun) seperti mengalami atau menyaksikan kekerasan fisik dan/atau psikis dalam rumah tangga, diabaikan, mengalami perpisahan orang tua, atau menyaksikan anggota keluarga yang meninggal akibat bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri.

Kejadian traumatis ini dapat menjadi stressor besar bagi seorang anak dan berdampak pada keberlanjutan kehidupan anak. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam merespon sebuah trauma di kemudian hari.

Di sisi lain, ACEs berhubungan dengan peningkatan masalah kesehatan fisik seperti obesitas, diabetes, depresi, penyakit jantung, kanker, stroke, penyakit paru obstruktif kronis, dan sebagainya; dikarenakan dampaknya yang dapat mempengaruhi gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, atau konsumsi obat-obatan terlarang. ACEs turut mempengaruhi tingkat prestasi akademik anak dan juga produktivitas seseorang ketika bekerja nanti.

Hal ini didasari oleh dampak ACEs yang menyebabkan peningkatan aktivasi sistem respon tubuh terhadap stressor.

Tapi, Moms and Pops, bukan berarti harus menghindari seluruh kejadian yang membuat anak merasa tidak nyaman ya. Kenyataannya, tidak seluruh macam stressor bersifat membahayakan bagi perkembangan anak.

Pada dasarnya, ketika kita dihadapkan pada situasi yang mengancam, kejadian ini akan direspon oleh tubuh dengan adanya peningkatan tekanan darah, peningkatan laju nadi, dan peningkatan hormon stres seperti kortisol.

Akan tetapi, ketika seorang anak yang sedang mengalami stres di lingkungan yang aman dan suportif, efek fisiologis tersebut akan teratasi dan menyebabkan sistem respon yang sehat. Anak dapat bertahan menghadapi stressor dan berkembang dengan kapabilitas individu yang lebih baik.

Baca juga: Curahan Hati Burn Out Menjadi Orang Tua

Hal ini disebut sebagai stres positif yang berarti respon tubuh terhadap stressor di mana tubuh tersebut dapat beradaptasi dan memberikan respon yang sehat. Namun, bagaimana dampak stres yang bersifat toksik (toxic stress) terhadap tubuh?

Penurunan kualitas hidup dan kesehatan fisik.

Produksi hormon adrenalin meningkat ketika menghadapi stressor meningkatkan aliran darah yang berujung pada peningkatan tekanan darah. Hormon kortisol juga diproduksi sebagai respon terhadap berbagai bentuk stres serta membantu otak dan tubuh mengatasi situasi yang tidak menyenangkan.

Jika seseorang mengalami stres kronis, maka dapat terjadi penurunan fungsi imunitas tubuh, gangguan fungsi daya ingat, dan berpengaruh terhadap peningkatan kejadian sindrom metabolik, hilangnya mineral tulang, dan penurunan massa otot.

Parents Guide
Parents Guidehttp://www.burhanabe.com
Info seputar parenting, mulai dari kehamilan, tumbuh kembang bayi dan anak, serta hubungan suami istri, ditujukan untuk pasangan muda.

Related Posts

Comments

Stay Connected

0FansLike
400FollowersFollow
8,450FollowersFollow

Recent Stories